Senin, 10 Januari 2011

Tulisan LASKAR PELANGI


Kisah ini adalah kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri. Film “Laskar Pelangi” ini menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas yang sangat miskin. Anak-anak kecil ini mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang puritan. Bersebelahan dengan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan difasilitasi begitu modern pada masanya, SD penulis ini, tampak begitu papa dibandingkan dengan sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah). Mereka, para native Belitung ini tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah tempat tinggal mereka. Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas ketulusan dan kepeloporan dua orang guru, Bapak Harfan Efendy Noor dan Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok.
Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor. Sekolah ini sudah teramat rapuh gedung sekolah bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo beras sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan.
Dari waktu ke waktu kedua guru berdua bahu membahu membesarkan hati murid-muridnya yang hanya berjumlah sebelas orang. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus memberi julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.

Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah, dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota laskar pelangi yaitu Ikal, Lintang, dan Sahara berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.
Kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling pintar anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah karena ayahnya meninggal dan dia harus menghidupi anggota keluarganya sebap dia anak lelaki tertua di keluarga.
Meskipun sekolah Muhamaddiyah itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi.
Akhirnya diantara sebelas orang anggota laskar pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan research di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Itu semua merupakan hasil dari pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan.

Makna yang terkandung
1.      Film ini memberikan contoh agar kita tetap besar hati dalam menghadapi pergumulan hidup.
2.      Jangan lah memandang orang miskin sebelah mata, karena belum tentu kita lebih baik dari mereka.
3.      Kemiskinan dan kekurangan bukan menjadi penghalang buat mencapai kesuksesan.
4.      Kita harus menghargai kerja keras guru Karena guru seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar